Pemerintah melalui kementrian pertanian telah menetapkan kebijakan terkait dengan petani milenial yang berdaya saing tinggi.
Milenial adalah Sebutan untuk generasi muda di zaman sekarang yang identik dengan manusia modern, kekinian, dan menyukai apa saja yang berbau teknologi canggih. Generasi milenial hadir di tiap bidang kehidupan manusia, tak terkecuali di bidang pertanian.
Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPSDMP) Kementrian Peranian menetapkan tiga ciri generasi petani milenial antara lain berusia 19 – 39 tahun , berjiwa milenial dan adaptif terhadap teknologi digital, memilki jaringan kerjasama usaha

Banyak faktor penyebab turunnya minat generasi muda terjun kedunia pertanian di antaranya

  1. Persepsi anak muda terhadap sektor pertanian diantaranya bahwa bertani itu kotor, butuh kerja keras, jadul, susah, tidak keren, kurang menguntungkan, butuh waktu lama dan dekat dengan kemiskinan,
  2. Keluarga, sekolah, dan aktivitas nonpertanian telah membentuk pemuda perdesaan menjadi sumber daya manusia yang bersifat modern ” “Pemuda modern ini mendorong bermigrasi dari desa ke kota dan meninggalkan pertanian yang hanya berskala kecil.
  3. Sebagaian besar (70 %) orang tua tidak menghendaki anaknya menjadi petani (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, 2015)
  4.  Sebagian besar orang tua tidak mau menyerahkan lahan pertanian kepada anaknya, anaknya baru menerima lahan pertanian pada usia sekitar 40 tahun, setelah orangtuannya meninggal

Sebagai contoh Kementrian Pertanian telah menetapkan target pencapaian penumbuhan petani milenial di Jawa Barat tahun 2019 sebanyak 110. 449 orang yang tergabung dalam 4.418 Kelompok Usaha Bersama (KUB), 20 % diantaranya dialokasikan pada komunitas santri milenial dipondok-pondok pesantren.

Strategi penyuluhan guna mewujudkan target petani dan santri tani milenial dapat dilakukan melalui :

  1. Merubah main set dan paradigma penyuluh pertanian sebagai pendamping dan pengawal     petani, penyuluh pertanian harus lebih dahulu menjadi penyuluh berjiwa milenial yang berwawasan agribisnis dan memilki jejaring komunikasi dan kerjasama yang luas. Untuk itu penyuluh perlu di upgrade melalui pelatihan-pelatihan dengan materi metodologi penumbuhan dan pengembangan petani dan santri tani milenial, teknologi digital, jejaring kerjasama busines dan materi lain yang dianggap urgen untuk pengembangan petani dan santri tani milenial.

 2.    Pada era milenial ini, petani juga dituntut untuk meningkatkan kualitas hasil pertaniannya agar bisa bersaing dengan produk pertanian impor. Untuk itu tidak hanya memperhatikan sarana produksi pertanian yang selama ini kita kenal yaitu lahan, modal, tenaga kerja, dan teknologi, tetapi juga sarana produksi yang penting di era milenial ini adalah informasi, karena informasi sangat menentukan keberhasilan usaha petani, misalnya terkait dengan produk yang diperlukan, harga pasar, jaringan kerjasama dan lain sebagainya. Informasi pertanian yang tepat waktu dan relevan, sangat mendukung dalam proses pengambilan keputusan petani.

3.    Meningkatkan intensitas diseminasi informasi. Informasi melalui telepon pintar, sarana internet dan telepon seluler (ponsel), Cyber extension dan jaringan komnikasi posluhdes merupakan pengembangan informasi dan inovasi pertanian berbasis teknologi informasi komunikasi (TIK) yang dapat didayagunakan secara oftimal.

4.    Melakukan pendataan dan pemetaan petani dan santr tanii milenial untuk digabungkan ke dalam organisasi kelompoktani atau Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang memiliki Rencana Usaha Bersama (RUB). Pendataan dan pemetaan ini penting untuk mengetahui kondisi petani dan model pembinaan yang akan diberikan.

 5.    Diperlukan dukungan pemerintah terutama

       (1)  Berupa pendidikan dan pelatihan bagi petani dan santri tani milenial dengan materi teknologi canggih, adaptip dan aplikatif yang disajikan secara santai, kerja nyata, aktif, dan ada tantangan tersendiri yang menarik jika perlu dilakukan magang dipetani milenial yang berhasil. Dalam pendididkan dan latihan ini lebih banyak melibatkan   praktisi yang berhasil ketimbang teori-teori di kelas.

        (2)  Berupa berbagai penemuan dan inovasi di bidang pertanian yang menarik kaum muda untuk menekuninya seperti pertanian indoor farming atau bertani di dalam rumah, seperti pertanian hidroponik, aquaponik, dengan sistem budidayanya melibatkan software atau program komputer yang bisa diaplikasikan di gadget. Inovasi teknologi bertani seperti stimulus start up yang bisa membantu proses penanaman hingga panen lebih efektif dan efisien. Selain itu penggunaan drone dalam mengusir hama sawah seperti burung serta penggunaan perangkat digital dalam memantau perkembangan tanaman, pemasaran produk serta prakiraan cuaca/musim tanam

       (3)    Kampanye secara masif menarik minat petani milenial via berbagai media sosial.

       (4)    Memberikan insentif bagi petani generasi milenal. Insentif tersebut bisa berupa asuransi pertanian, asuransi kesehatan, serta kebijakan lain yang bisa mengurangi beban pengeluaran hidup petani.

  1.  Diperlukan kerelaan dari para orang tua bagi anaknya untuk terjun ke dunia pertanian  sekaligus menyerahkan lahan pertaniannya untuk dikeloloa secara profesional

Peran Petani Milenial

Petani milenial mempunyai peran penting untuk saat ini. Karena, untuk melanjutkan pembangunan di sektor pertanian dibutuhkan dukungan dari SDM pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Dan tentunya itu bisa didapatkan dari bangku pendidikan vokasi. Karena, pengembangan pendidikan vokasi menjadi kunci terhadap cikal bakal lahirnya petani milenial. Hal tersebut telah dikatakan oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, bahwa jumlah petani Indonesia saat ini di tahun 2020 ada sekitar 33 juta jiwa.

Dari jumlah itu, didapat data bahwa hanya 29% petani yang usianya kurang dari 40 tahun, atau disebut sebagai petani milenial.

            Faktor pengungkit produktivitas adalah inovasi teknologi dan sarana prasarana pertanian, serta kebijakan peraturan perundangan termasuk local wisdom, yang masing-masing kontribusinya sekitar 25%. Sedangkan yang paling besar adalah SDM yang kontribusinya mencapai 50% dalam produktivitas. Pembangunan pertanian belum cukup kalau hanya bicara inovasi, sarana dan prasarana, termasuk kebijakan peraturan perundangan. Yang utama adalah bagaimana kita meningkatkan SDM, sehingga mampu mengimplementasikan inovasi, sarana dan prasarana dengan baik dan benar, serta mampu mengusulkan kebijakan peraturan perundangan yang mendukung pertanian

Output dari pendidikan vokasi adalah qualified job creator dan job seeker. Qualified job creator artinya petani yang mandiri, bahkan mampu membuka peluang kerja buat rekan-rekannya. Petani ini yang paling diharapkan dari pendidikan vokasi. ementara qualified job seeker adalah petani milenial yang terampil dan menguasai pekerjaannya yang bisa ditempatkan diseluruh sektor dunia usaha dan industri pertanian. Petani milenial produk vokasi harus mampu masuk dunia usaha dan industri. Makanya, sistem vokasi harus selaras dengan dunia usaha dan industri, termasuk dalam kurikulum, proses belajar mengajar.

Tujuan Utama Petani Milenial

Bahkan sampai saat ini generasi milenial masih terus dijadikan sebagai target utama dan penting untuk mendongkrak kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di bidang pertanian. Dimana dalam program tersebut memiliki tujuan utama, yakni untuk menumbuh kembangkan kewirausahaan muda pertanian di Indonesia. Tentu saja peran petani milenial di bidang pertanian penting sekali, sebab dianggap memiliki jiwa yang adaptif dalam pemahaman teknologi digital, sehingga tak terlalu kaku dalam melakukan identifikasi dan verifikasi teknologi. Atas dasar itulah Kementan atau Kementerian Pertanian di Indonesia memiliki target 1 juta petani milenial yang ikut tergabung dalam 40 ribu kelompok di masing-masing daerah, dimana dalam setiap kelompok terdiri dari 20-30 orang.

Contoh Petani Milenial
Salah satu contoh dari diwujudkannya program petani milenial ini terlihat sudah berjalan dengan baik di Tasikmalaya. Dimana ada sekitar 15 ribu santri dari seluruh Indonesia yang mendapat pelatihan agribisnis, tujuannya agar mereka nanti bisa menerapkan praktik usaha pertanian secara modern mulai dari hulu hingga ke hilir.

Andi Amran Sulaiman, selaku Menteri Pertanian mengatakan bahwa, kegiatan yang bertajuk ‘Launching Santri Tani Milenial’ tersebut adalah salah satu upaya keseriusan Kementan dalam regenerasi di sektor tani. Tentu saja yang demikian ini penting sekali, mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan meningkat drastis seiring laju pertumbuhan penduduk, tetapi pada kenyataannya pekerja di dunia pertanian malah alami penurunan dan diisi oleh petani senior saja. Memperkenalkan dan menggerakan petani milenial pada dasarnya menjadi pilihan yang tepat untuk regenerasi dan bisa meningkatkan produktifitas pertanian.

Petani Milenial Sukses

Sandi Octa Susila Adalah Duta Petani Milenial    Kementerian Pertanian, dan  pada usia 27 tahun telah mengelola 120 hektar tanah pertanian. Berpendidikan S2 IPB, penggerak 373 petani, serta lahan pribadi dengan membawahi 50 karyawan. Garapan tanah itulah yang membantu Sandi secara bertahap meraup omzet dari Rp500 juta sampai Rp800 juta per bulan.

Agitya Kristantoko

Yang biasa dipanggil Mas Tyo, anak muda asal  Bojonegoro, Jawa Timur. Dirinya sukses mengembangkan usaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai alat pemasaran.

Pemilik “Omah Menyok” Gading dan tempat pelatihan   sekaligus Agrowisata Edukasi Kuliner Omah Menyok di Jawa Timur itu hingga saat ini telah memproduksi 155 jenis olahan hasil dari singkong, seperti rengginang singkong, kripik singkong dan olahan makanan ringan lainnya dengan packaging yang cukup menarik.

Merk dagang camilan singkongnya “Gading” yang sudah dipatenkan di Kemenkumham dan dipasarkan di gallery produk olahannya, toko swalayan terkenal, pusat perbelanjaan dan market place seperti Bukalapak dan Shopee

Shofyan Adi Cahyono

Duta Petani Milenial asal Semarang, sebagai Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda dan pendiri P.O Sayur Organik Merbabu (SOM), Shofyan juga menjalani profesi sebagai konsultan pertanian, fasilitator, dan asesor pertanian organik di Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian Organik (LSPPO) Jakarta. Bisnis jualan sayur organik yang dimulainya tahun 2014, dengan P.O Sayur Organik Merbabu (SOM) yang digagasnya sudah memasarkan 50 jenis sayuran organik ke sejumlah daerah di pulau Jawa hingga Kalimantan.Bahkan sampai ke Singapura dengan omzet mencapai Rp 60 juta sebulan.

Rizal Fahreza

Generasi milenial usia 29 tahun ini mengawali usahanya dengan lahan seluas 2,2 hektare diperolehnya dengan sistem bagi hasil, melalui sewa lahan dan juga lahannya sendiri, Rizal menggandeng 17 petani hortikultura di enam kecamatan di Garut. Hingga saat ini, suplai jeruk sebanyak 1,2 ton atau sekitar 400 dus jeruk per hari untuk Jakarta dan Bogor.

 Enterpreneur muda penerima program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) ini merupakan salah satu SDM berkualitas yang dimiliki Indonesia.

Mahfudz

Mahfudz (26 tahun), petani milenial asal Kabupaten Sampang, Madura, alumni Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan Bagi Petani Muda yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan (BBPP) Ketindan, cakap membaca peluang pasar berbudidaya tanaman melon. Dengan luas lahan 1 Ha, Mahfudz bisa menghasilkan 20-30 ton/ha dengan harga jual Rp.8000-Rp.10.000/kg.

Dalam satu tahun tanam, Mahfudz menanam 4 kali dan sekali panen mencapai 60-70 juta.

jika diasumsikan omzetnya mencapai 250 juta rupiah.

Azis Abdul Rahman

Azis Abdul Rahman bersama dengan Andriano, Indania Pramaulidia dan Silvia Octaviani, mereka bergabung dan membentuk kelompok dengan nama Saung Sayur Sehat (S3) Farm.

Petani Milenial Hidroponik ini akan merilis beberapa olahan makanan dan minuman yang berbahan dasar sayur segar.

S3 Farm merupakan kelompok usaha yang bergerak dalam usaha hidroponik. Lokasi usaha S3 Farm beralamat di Jl. Ciaul, Kp. Jambuluwuk RT/RW 04/01, Desa Bojongmurni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Program Petani Milenial

Program petani milenial ini nanti pastinya akan melibatkan banyak anak muda di seluruh Indonesia. Program tersebut ditujukan khusus untuk mendorong regenerasi petani Indonesia, yakni dengan cara menumbuhkan wirausahawan muda di bidang tani. Dengan akan membuka lapangan pekerjaan, khususnya di masyarakat pedesaan. Sehingga diharapkan agar program petani milenial juga dapat menekan angka kemiskinan dan urbanisasi.

 

Penulis : KHUSNIYAH S.P, M.Agb.