Konsep Pertanian Kota Urban Farming

Oleh :  Khusniyah

Dalam beberapa tahun terakhir, tren urban farming kian diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Urban farming yang berarti bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan dianggap beriringan dengan keinginan masyarakat kota untuk menjalani gaya hidup sehat. Hasil panen dari urban farming lebih menyehatkan lantaran sepenuhnya menerapkan sistem penanaman organik, yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintesis

Dengan Penurunan kualitas hidup yang dialami oleh masyarakat kota maka

 urban farming memiliki dampak yang lebih besar bagi kelangsungan hidup masyarakat perkotaan. Sejumlah penelitian pun menyebutkan bahwa urban farming dapat menjadi konsep pertanian ideal di masa depan

Menjawab Krisis Ruang Terbuka Hijau

Masifnya pembangunan di perkotaan menyebabkan tergusurnya ruang-ruang terbuka hijau. Hilangnya ruang terbuka hijau sangat memengaruhi kestabilan ekosistem lingkungan, sekaligus meningkatkan polusi yang mana berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat kota.

Konsep urban farming lantas menawarkan solusi dengan menciptakan lahan terbuka hijau ditengah padatnya bangunan perkotaan. Urban farming dapat mengelola wilayah perkotaan yang tercemar menjadi lingkungan yang nyaman dan sehat untuk ditinggali.

Menjaga Ketahanan Pangan

Proses urbanisasi yang menyebabkan tingginya laju pembangunan turut mengeliminasi keberadaan lahan pertanian di perkotaan. Kota tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Permintaan akan bahan makanan yang tidak tercukupi akan menyebabkan inflasi harga. Jika terus dikembangkan, urban farming dapat diproyeksikan untuk mencukupi ketersediaan bahan makanan dan memperkuat ketahanan pangan kota itu sendiri.

Urban Farming untuk Pemberdayaan Masyarakat

Urban farming tentu dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan produktif yang bisa diikuti oleh masyarakat banyak. Tidak hanya sekedar kegiatan pemberdayaan komunitas, urban farming juga dapat menunjang kondisi ekonomi masyarakat itu sendiri melalui pemasaran hasil panen urban farming.

Potensi Urban Farming di Masa Depan

penelitian yang dilangsungkan oleh profesor dari Arizona State University, Matei Georgescu, mengungkap bahwa jika implementasi urban farming dilakukan secara penuh di setiap kota besar dunia, produksi urban farming dapat menghasilkan 180 juta ton bahan makanan selama setahun. Angka tersebut merupakan 10 persen dari total hasil produksi makanan secara global.  urban farming juga berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam untuk pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara, sama artinya dengan mencegah turunnya 57 juta meter kubik limpasan badai yang kerap mencemari sungai dan saluran air bersih.

Melihat besarnya keuntungan yang dapat diperoleh dari urban farming sebagai bagian dari urban planning atau perencanaan tata kota di masa depan

Dampak Negatif dari Urban Farming

Urban farming memiliki dampak yang besar bagi kelangsungan hidup masyarakat kota. Dampak negatif yang sama besarnya juga bisa terjadi apabila penerapan urban farming tidak dilakukan secara baik dan optimal.

Menurut penelitian yang dilangsungkan Lori Hoagland berjudul Urban Agriculture: Environmental, Economic, and Social Perspectives, kesalahan pada praktik urban farming dapat menyebabkan meningkatnya polusi suara dan udara, banjir serta pemborosan energi, terutama air. Kelalaian dalam merawat perkebunan urban farming dapat menyebabkan berkembangnya spesies nyamuk yang menyebarkan penyakit malaria. Kurangnya keterampilan dan infrastruktur yang tidak memadai biasanya menjadi penyebab utama dari kegagalan urban farming.